Skip navigation

Editor, Sound Recordist, dan Post-Production Supervisor hingga 2008. Karyanya di antaranya feature Sekolahku Rumahku (UNICEF, 2008, 85 min.) serta serial dokumenter Participatory Learning Action for Avian Influenza (UNICEF, 2007, 8 episode). Saat ini mengelola rumah produksi yang berkonsentrasi pada dokumenter dan profile NGO.

Bergabung di Orca sebagai editor dan cameraman. Karya yang dihasilkannya di antaranya serial dokumenter Participatory Learning Action for Avian Influenza (UNICEF, 2007, 8 episode). Kini bekerja di divisi komunikasi satu lembaga swadaya masyarakat di Bandar Lampung.

Mantan staf USC Satunama bergabung sebagai researcher dokumenter The School Must Go On, No Lost Childhood, The Key for Proper Living, dan Breastfeeding for an Eternal Love (UNICEF, 2006). Spesialis di bidang lingkungan, pertanian, dan youth development ini merupakan researcher tetap untuk produksi dengan tema-tema serupa.

UNICEF, Documentary series, 2007, 8 episodes

Saat masyarakat Yogyakarta belum sepenuhnya bangkit dari serakan gempa 27 Mei 2006 virus flu burung yang mematikan diam-diam mengancam. Masyarakat terancam pandemi yang mengerikan. Tapi di tangan mereka sendirilah bencana lebih dahsyat bisa dihindari.

UNICEF, Documentary, 2006, 12 min.

Nasim dan teman-temannya tinggal di Dlingo, wilayah pegunungan yang tandus. Setiap saat mereka menghadapi persoalan ekonomi orangtua yang pas-pasan dan kondisi sekolah tenda yang gerah. Dan setiap hari para guru menempuh jarak tigapuluh kilometer naik-turun pegunungan. Namun di Dlingo yang terpencil itu anak-anak dan orang-orang dewasa saling belajar demi kehidupan yang lebih baik.

UNICEF, Documentary, 2006, 14 min.

Pasca-gempa 27 Mei 2006 anak-anak seolah tercabut dari akarnya. Mereka kehilangan permainan, tempat bermain, dan atensi lingkungan sekelilingnya. Bencana luar-biasa potensial memicu kekerasan terhadap anak – komunitas yang mestinya paling dilindungi. Ahmad kehilangan Fina kakaknya yang menjadi korban gempa; tidak ada yang menginginkannya menjadi korban beriikutnya dalam musibah yang rentan muncul dalam wujud yang lain.

UNICEF, Documentary, 2006, 12 min.

Gempa 27 Mei 2006 meluluhlantakkan fasilitas sanitasi warga Yogyakarta yang tinggal di wilayah pelosok. Sejak saat itu Mbak Wir merelakan ladangnya sebagai tempat buang air warga dusunnya. Mereka tidak membuat lubang khusus melainkan melakukannya begitu saja, di mana saja. Mbah Wir tidak bisa mendiamkannya. Ia harus melakukan sesuatu tanpa meminta kembali tanahnya.

UNICEF, Documentary, 2006, 18 min.

Bantuan selalu mengalir di daerah-daerah yang dilanda bencana alam. Termasuk susu formula. Dalam keadaan genting dan labil hampir tidak ada yang waspada susu formula justru membahayakan bayi dan anak-anak korban gempa.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.